Inilah yang memang terjadi. Jusuf kallan denga partai golkarnya hendak memperpanjang masa kerjasama dengan SBY bersama partainya demokrat harus menerima kepahitan dengan penolakan secara halus dari pihak SBY. Demokrat justru membentuk tim khusus untuk menentukan pasangan tepat bagi calon presdien yang diusungnya yaitu SBY. Pihak demokrat meminta syarat yang cukup berat seperti meminta 5 nama calon cawapres untuk diajukan kepadanya.
Sebuah tamaparan keras memang, ketika syarat tersebut diajukan kepada pihak Jusuf Kalla. Kebersamaannya dengan SBY selama 5 tahun serasa tidak berarti apapun, bahkan terkesan memojokkan Jusuf Kalla dengan anggapan ketidakbecusannya menjadi pendamping SBY. Beliau mengaku tidak tahu menahu alasan khusus ditolaknya beliau menjadi pendamping Sby untuk masa pencalonan presiden tahun ini. Sekedar menebak, bahwa memang beliau dengan Bapak SBY memiliki sudut pandang yang berbeda. Seperti kita ketahui bahwa Jusuf kalla adalh pengusaha handal. Sedangkan SBY adalah mantan militer yang tangguh. Tentu perspektif diantara keduanya tidaklah sama.
Walau demikian, jusuf kalla tetap komitmen dan tanggung jawab dengan jabatannya sekarang sebagai pendamping SBY untuk masa pemerintahan yang hampir berakhir ini. Beliau juga menyatakan tetap baiknya hubungan diantara keduanya meskipun telah resmi berpisah dan bahkan menjadi kompetitor. Meskipun awalnya beliau agu, namun berkat pelurusan pemikiran oleh kyai NU, beliau akhirnya mantap menjadi calon presiden tahun ini.
Sekarang tinggal berjuang mendapatkan simpati masyarakat. Sudah sepantasnya pemimpin yang bijak adalah menerima apa yang sudah dan yang akan terjadi. Kebersamaan yng terputus serta kemungkinan kekalahan yang bisa saja dialami haruslah sudah dipersiapkan sejak awal. Karena dalam pertarungan ini, hanya satu pasangan saja yang menang semua tergantung dari perolehan suara yang mereka dapatkan dari hati rakyat Indonesia.
Perjuangan terus berlanjut. Mari sebagai bangsa yang beradab tetap menjunjung etika dan kejujuran dalam pemilu tahun ini. Mari turut menyeimbangkan dan mendukung pemilu dengan sikap bijkasana sesuai pemahaman dan keyakinan kita. Siapapun yang kan terpilih nantinya haruslah kita terima dan kita dukung sepenuhnya. Semoga bangsa kita menjadi bangsa yang semakin mandiri dan hebat.
Apapun yang terjadi.. siapapun yang benar.. semoga yang terbaik lah yang memimpin negeri ini ..
amin .
>
Tidak ada komentar:
Posting Komentar