Kamis, 13 Oktober 2011

Antara RESTU dan SOTO SORE

Landreamsgit sore ini terlihat berbeda. Warna orange kemerah-merahan di ufuk barat bersaingan dengan cerahnya langit yang berawan putih. Kekontrasan yang menjadikan indah. Gunung merapi terlihat jelas, berdiri megah bersanding dengan sang merbabu. Di arah yang lain, gunung lawu tak mau kalah menjulangkan ketinggiannya yang nampak jelas diterpa mentari sore. Sudah beberapa hari ini aku pulang terlambat. Bukan karena pekerjaan yang menumpuk, melainkan sekedar berbagi dan mengakrabkan diri dengan rekan-rekan di kantorku. Gak lain gak bukan, kuhabiskan satu jam sepulang kantor untuk makan malan bersama.
"Tar pulang makan dulu yuk wik. Pengen SOTO SORE. Kamu udah pernah nyoba belum?' ajak mb lina. Teman kantor sebangku denganku.
"Hemm..!?"sekilas kulirik mb lina dan kembali mengamati monitorku. "Mana itu mbak? kayaknya pernah denger." jawabku sembari terus memainkan jariku di keyboard, bermain-main dengan tabel-tabel di excel.

"Itu hloo... dari pertigaan asrama ke timur dikit, tar selatan jalan. Enak dan murah. Gorengan dan camilannya juga banyak, bisa milih." jelas mbak lina dengan persuasifnya.

"hee.. mana ia mbak ia. Ia deh tar gampang. Memangnya masih marahan sama ibuk ia mb?' pembicaraanpun kualihkan ke hal yang lebih serius.
Mbak lina terdiam sejenak. Di ambilnya handphone merah kesayangannya. HP yang biasa dia gunakan untuk smsan dan telfon-telfonan dengan abangnya berjam-jam. Dipandanginya wallpaper di HP itu. Wajah yang tak asing bagiku. Hpnya dihiasi foto mas fajar. Abang yang baru dia kenal dua bulan ini yang langsung memikat hatinya. Sayang, dia belum pernah bertemu dengan abangnya itu. Seseorang yang setiap hari dia ceritakan, yang setiap hari dia rindu-rindukan.
Jarak memang membuat semuanya menjadi berfikir ulang untuk mengambil keputusan.